“WAJAH PENDIDIKAN INDONESIA”
Karya: Hairul Anam
Prodi: S1 PGSD
Kupandang  wajah  itu  dari  kejauhan,  tampak  sebingkai  harapan  yang
terpancar  bagai  matahari  yang  terang  menyilaukan  kedua  mata.  Sesekali
kumerenung  memikirkan  bagaimana  nasip-nasip  dari  wajah  itu,  didalamnya
penuh dengan mutilasi-mutilasi kehidupan yang membuat para korban berjatuhan,
menangis  dan meratapi ketidak adilan dan ketidak sesuaian dengan harapan dan
kenyataan. Namun ketika kita pandang wajah itu  lebih dalam lagi  dengan penuh
penghayatan  bukan  sekedar  merenunginya,  ternyata  terlihat  ada  sebutir-sebutir
debu  diwajahnya  yang  ternyata  penuh  dengan  duka  dan  derita.  Realitas  ini
ternyata  membuahkan  kesadaran  baru,  yang  berkembang  melalui  kebangkitan
nasional  (1908)  dan  diteruskan   sumpah  pemuda  sebagai  wujud  keinginan
generasi muda menuangkan satu tekad (1928), dan puncaknya adalah Proklamasi
Kemerdekaan  tahun  1945.  Namun  apakah  sampai  disitu  masalahnya  ?;  apakah
sudah tidak ada lagi persoalannya?; atau apakah kita sudah benar-benar merdeka?
Mencermati realitas ini, maka diperlukan upaya-upaya tertentu, agar setiap
warga  bangsa  memiliki kesadaran  yang  tinggi  terhadap  tanah  airnya.  Kesadaran
ini  harus  tumbuh  dan  berkembang  sebagai  wujud  tanggung  jawab,  dan  bukan
hanya  sebagai  kepentingan  sesaat  belaka.  Sisi  lain  yang  harus  diagendakan
menjadi  perhatian  adalah  kemajuan  dibidang  pendidikan.  Terkait  dengan
globlisasi  yang  ditandai  dengan  semakin  kuatnya  pengaruh  institusi
kemasyarakatan internasional, negara-negara maju yang serta merta ikut mengatur
percaturan  perpolitikan,  perekonomian,  social  budaya  hingga  pertahanan  dan
keamanan  global.  Realita  ini  akan  mengkondisi  tumbuhnya  berbagi  konflik
kepentingan,  baik  antara  negera   maju  dan  negara  berkembang,  antara  negara
berkembang  dan  berbagai  institusi  internasional.  Sisi  lain  isu  global  yang
manifestasinya berbentuk demokratisasi, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup
turut serta mempengaruhi keadaan nasional.
Seperti  yang  pernah  diungkapkan  salah  satu  rektor  sebuah  universitas,
“tanpa  pendidikan  kewarganegaraan  yang  tepat  akan  lahir  masyarakat  egois.
Tanpa penanaman nilai-nilai kewarganegaraan, keragaman yang ada akan menjadi
penjara  dan  neraka  dalam  artian  menjadi  sumber  konflik.  Pendidikan,  lewat
kurikulumnya, berperan penting dan itu terkait dengan strategi kebudayaan.”
Beliau menambahkan bahwa ada tiga fenomena pasca perang dunia II,yaitu :
Fenomena  pertama,  saat  bangsa-bangsa  berfokus  kepada  nation-building
atau  pembangunan  institusi  negara  secara  politik.  Di  Indonesia,  itu  diprakarsai
mantan Presiden Soekarno. Pendidikan arahnya untuk nasionalisasi.
Fenomena  kedua,  terkait  dengan  tuntutan  memakmurkan  bangsa  yang
kemudian  mendorong  pendidikan  sebagai  bagian  dari  market-builder  atau
penguatan pasar dan ini diprakarsai mantan Presiden Soeharto.
Fenomena  ketiga,  berhubungan  dengan  pengembangan  peradaban  dan
kebudayaan.  Singapura,  Korea  Selatan,  dan  Malaysia  sudah  menampakkan
fenomena  tersebut  dengan  menguatkan  pendidikannya  untuk  mendorong  riset,
kajian-kajian, dan pengembangan kebudayaan
Pendidikan  indonesia,  tidak  seindah  kupu-kupu.  Sungguh  alangkah
syahdunya  menjadi  kepompong  yang  berkarya  dalam  diam,  bertahan  dalam
kesempitan. Tetapi bila tiba waktunya untuk menjadi kupu-kupu tak ada pilihan
lain  selain  terbang  menari-nari  melantunkan  kebaikan  diantara  bunga,  dan
menebar keindahan pada dunia, Tetapi tidak dengan pendidikan di indonesia
Wajah pendidikan indonesia, sungguh ironis kita lihat.  Katanya Pengaruh
pendidikan dapat dilihat dan dirasakan secara langsung dalam perkembangan serta
kehidupan  masyarakat, kehidupan kelompok, dan kehidupan setiap individu. Jika
bidang-bidang  lain  seperti  ekonomi,  pertanian,  perindustrian  berperan
menciptakan  sarana  dan  prasarana  bagi  kepentingan  manusia,  maka  pendidikan
berurusan langsung dengan pembentukan manusia. Pendidikan menentukan model
manusia  yang  akan  dihasilkannya.  Katanya,  pendidikan  juga  memberikan
kontribusi  besar  bagi  kemajuan  suatu  bangsa  dan  merupakan  wahana  dalam
menterjemahkan  pesan-pesan  wajah  yang  terpancarkan  serta  membangun  watak
bangsa.  Itu  mungkin  tujuan  yang  ingin  dicapai  dan  dicita-citakan.  Tetapi  kalau
kata kakek saya,  kita lihat lebih teliti wajah pendidikan itu, banyak  sekali dakidaki dan debu-debu, dan jerawat  yang masih  nempel dan  belum bisa dibersihkan
dan  belum  bisa  ditemukan  obat  yang  tepat.  Maka  saya  membuat  suatu  produk
untuk  mengatasi  wajah  yang  penuh  dengan  jerawat  itu  yaitu  “PENDIDIKAN
WHITE  BEAUTY”  untuk  wajah  pendidikan  tampak  lebih  putih,  merona  dan
bersinar.
Persoalannya  sekarang,  pendidikan  yang  bagaimanakah  yang  harus
dikembangkan  untuk  membebaskan  masyarakat  dari  keterpurukan,  agar  dapat
mengangkat  harkat  dan  martabat  bangsa,  serta  membebaskan  bangsa  dari
ketergantungan terhadap negara lain?.
Jawabannya  sederhana,  yakni  pendidikan  yang  dapat  mengembangkan  potensi
masyarakat,  mampu  menumbuhkan  kemauan,  serta  membangkitkan  nafsu
generasi bangsa untuk menggali berbagai potensi, dan mengembangkannya secara
optimal bagi kepntingan pembangunan masyarakat secara utuh dan menyeluruh.
Sementara itu, hasil survey The Political And Economic Risk Consultancy (PERC)
yang  dimuat  The  Jakarta  Post  yang  saya  baca  menunjukkan  betapa  rendahnya
kualitas  pendidikan  indonesia  dibanding  negara  lain  di  Asia,  bahkan  berada
dibawah Vietnam.
Persoalan  lainnya  adalah  berlangsungnya  pendidikan  yang  kurang
bermakna  bagi  pengembangan  pribadi  dan  watak  peserta  didik,  yang  berakibat
menurunnya  moralitas  dan  kesadaran  makna  hakiki  kehidupan.  Pembelajaran
yang  berorientasi  pada  akhlak  dan  moralitas  serta  pendidikan  agama  kurang
diberikan  dalam  bentuk  latihan-latihan  pengalaman  untuk  menjadi  corak
kehidupan sehari-hari.
Persoalan  yang  lain  juga  kebijakan  dalam  bidang  pemerataan  misalnya,
dimaksudkan agar semua warga negara indonesia memperoleh kesempatan yang
sama untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas idealnya, warga negara yang
tinggal  dipedalaman  seperti  saya  dan  didaerah  terpencil  seperti  saya  bisa
memperoleh  pendidikan  gratis  yang  berkualitas  seperti  saudara  saya  yang  ada
dikota.  Demikian  halnya  juga  warga  negara  yang  miskin  harus  mendapatkan
pendidikan  yang  sama  kualitasnya  dengan  mereka  yang  kaya,  sehingga
pendidikan  berkualitas  menjadi  milik  bersama  seluruh  warga  masyarakat
indonesia.  Di indonesia, orang pandai sudah  cukup banyak, orang terampil juga
sudah  membeludak.  Masalahnya  bagaimana  agar  mereka  memiliki  kemauan
untuk  memanfaatkan  kepandaiannya  dan  keterampilannya  bagi  pemecahan
berbagai  persoalan  masyarakat  dan  bangsa,  dalam  skala  kecil  sekalipun,  bukan
malah menambah masalah dan menghambant pembangunan.
Tulisan saya ini dapat menjadi inspirasi dan membantu berbagai lembaga
pendidikan,  dalam  rangka  memperbaiki  kualitas  pendidikan  melalui  perbaikan
dan peningkatan kualitas orang-orang  yang pintar dan orang  yang belum pintar.
Apakah  orang  yang  pintar  sekarang  ini  belum  profesional,  serta  belum  mampu
menciptakan  sistem  pendidikan  dan  menjadikan  orang-orang  yang  ikut  disuatu
pendidikan  memiliki  kemampuan  untuk  menjadikan  pendidikan  di  indonesia  ini
menjadi  lebih  baik  sesuai  yang  kita  idam-idamkan  bersama.  Apakah  anda  juga
termasuk orang yang pintar itu atau calon orang pintar ?; ayo temukan persoalan persoalannya dan mencari tahu apa jawabannya.
Profil Singkat Penulis
Hairul  Anam  lebih  akrab  dipangggil  Hairul  atau  Irul  atau  bisa
juga  dipanggil  Anam.  Pria  kelahiran  Batu  bangka  Kawo,  07  Maret
1993 ini  adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Beliau  ini adalah anak
dari  pasangan  suami  istri  dari  Pa’ah  dan  Rohani.  Beliau  ini  sudah
menerbitkan berbagai artikel lepas.
Hairul  sangat  suka  menulis  dan  berbagi  ilmu  dengan  para
pembaca  blognya  (hairulpgsd2b.wordpress.com)  dan  facebook  (hairul
anam),  dan  email:  (hairul.pgsd2b@gmail.com)   Hobynya  adalah
musik, khususnya memainkan alat musik gitar, dan lagu Nasyid
Penulis  sekolah  di SDN Barepaok  tamat  pada  tahun  (2006) Dan tamat di
SMPN 2 Pujut Lombok Tengah (2009), dan tamat di SMAN 1 Pujut kabupaten
lombok  tengah  (2012).  Kemudian   melanjutkan  kuliyahnya  di  Universitas
Mataram  program  studi  S1  PGSD  tahun  2012.  Semasa  kuliyah,  penulis  banyak
mengikuti  berbagai  organisasi  baik  itu  organisasi  diluar  dan  di  dalam  kampus
Universitas,  diantaranya  organisasi  IPMK  (Ikatan  pelajar  dan  mahasiswa  kawo)
(2012),  FORMULA  (Forum  Mahasiswa  Lombok  Tengah),  KAMMI  (Kesatuasn
Aksi  Mahasiswa  Muslim  Indonesia)  di  HUMAS  (Hubungan  Masyarakat)  tahun
2013. Selain itu, penulis mengikuti organisasi di dalam kampus juga, diantaranya
ikut di BEM (Badan Eksekutip Mahasiswa) sebagai anggota (2013),DPM (Dewan
Pertimbangan Mahaiswa) sebagai ketua komisi III tahun 2012, dan ikut di Majelis
Taklim  Al-Kahfi (Mt Al-kahfi) sebagai koordinator di KOMPI (Komunikasi Dan
Pusat  Informasi)  tahun  2012.  Dan  juga  ikut  di  Himpunan  Mahasiswa  Program
Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HMPS PGSD) sebagai staf kerohanian.

 

Gambar
Moto  hidup  penulis  adalah:  Gunung  kan  kudaki,  lautan  kan  kusebrangi  dan
sawah – sawah kan kucangkuli setiap hari asal sukses kuraih.

Iklan

Tentang hairulpgsd2b

Nama saya hairul anam saya kulyah di salah satu Universitas Negeri di Mataram. saya tinggal didesa kawo, kecamatan pujut kabupaten lombok tengah,saya lahir pada tangggal 07 maret 1993, saya anak pertama dari 4 bersaudara, hoby saya bermain musik, moto hidup saya adalah "Gunung kan kudaki Lautan kan kusebrangi Sawah-sawah kucangkuli Lapangan pun kan kusapu tiap hari Asal sukses dapat kuraih "
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di islami. Tandai permalink.